Apakah Aku Temanmu?
"Ambil pasir di sana Mia!!!" teriak yaya
"Kenapa kita gak pindah aja ke sana? kenapa harus aku pindahkan pasirnya?" jawab Mia
"Yah, kamu ini tinggal ambil juga apa susahnya!" Tari menjawab dengan nada kesal
Tetiba saja Yaya dan Tari pergi meninggalkan Mia sendiri tanpa berbicara sepatah kata pun. Mia pun kebingungan dengan sikap temannya itu, saat hendak menghampiri kedua temannya yang sedang bermain pasir itu. Mia berteriak agar kedua temannya ini segera pergi ke pendopo, karena ibu guru sudah menyalakan sirene 1, tanda mereka harus bergegas kumpul. Namun, sayangnya kedua temannya ini tak mengelak teriakan dari Mia. Mereka masih saja sibuk bermain pasir, tak di sangka ombak yang menghampiri daratan pantai mengenai mulut mereka berdua, dan yang keluar dari mulut mereka hanyalah omelan yang di tuju kepada Mia.
Mia yang mendengar pun merasa sakit hati, akhirnya Mia pergi sendirian ke Pendopo. Tetiba di sana ibu guru sedang menyampaikan bahwa mereka akan pergi dari tempat ini pukul 10 pagi. Mia pun segera melihat jam tangannya, ternyata ini masih pukul 9 pagi. Teman-teman yang lain segera pergi meninggalkan area pantai, kecuali Yaya dan Tari yang masih saja asik berdua memainkan pasir di sana. Mia pun menghampiri kedua temannya.
"Eh kalian tadi kata ibu-"
"Udahlah cerewet sana pergi, kita juga tau kok ibu ngomong apa." Tari memotong perkataan Mia.
"Bukannya tadi kalian gak ada di sana?" Balas Mia
"Hahaha emang kita gak ada di sana, tapi kita tau kok bu guru bilang apa." Ucap Yaya dengan sombongnya.
Mia pun percaya kalau temannya ini tau dari salah satu teman mereka yang tadi ikut berkumpul, akhirnya Mia pun pergi ke tempat penginapan dan segera membilas tubuhnya. Selesai membilas tubuhnya, ia masih belum menemukan kedua temannya ada di dalam kamar, bahkan tas mereka masih berserakan. Mia pun berinisiatif membantu membereskan pakaian dan tas mereka yang berserakan itu. Walaupun ia sudah membereskan semua benda yang temannya bawa pun, temannya masih belum kembali ke area kamar. Karena Mia merasa khawatir akan keadaan temannya itu ia pun bergegas ke area pantai tempat mereka bermain pasir tadi. Namun, di sana ia pun tidak menemukan kedua temannya itu. Mia bergegas ke kamar ibu guru, terlihat di sana ibu guru sedang mengeluarkan tasnya dari dalam kamar. Mia pun menghampiri ibu guru dan berbicara dengan nafas terengah-engah.
"Ada apa Mia? Kenapa kamu terlihat seperti baru saja berlari" Ucap ibu guru
"I-bu it-u ta-ri dan ya-ya" Balas Mia
"Ada apa dengan mereka berdua? Coba kamu tenangkan diri terlebih dahulu supaya pembicaraanmu bisa diselesaikan"
Mia pun menenangkan dirinya sendiri, lalu ia pun melanjutkan pembicaraanya itu.
"Ibu, Tari dan Yaya tadi mereka sedang bermain pasir. Lalu saya mengatakan kepada mereka bahwa tadi ibu memberikan pemberitahuan. Tapi, belum selesai aku bicara mereka memotong perkataanku. Aku pikir mereka sudah diberi tahu teman yang lain, jadi aku pun bergegas membereskan tasku di kamar, namun hingga aku selesai membereskan tas, mereka masih belum tiba di kamar. Akhirnya aku pun menyusul ke tempat mereka bermain pasir, Namun saat aku tiba tidak ada mereka di sana. Aku khawatir mereka hilang ibu.." Cerita Mia dengan penuh rasa bersalah.
Ibu pun mencoba menenangkan hati Mia, dan mencari solusi untuk menemukan Tari dan Yaya. Saat Ibu guru dan Mia tiba ke tempat informasi orang hilang di sana lah Mia menemukan Tari dan Yaya sedang menangis. Mia pun segera memeluk mereka, namun bukannya meminta maaf. Tari dan Yaya segera memojokkan Mia dihadapan ibu guru.
"I..buu..ga..raa..ga..ra..Mia..kit..a..ja..dii..ter..se...saat" dengan tangisan yang masih ada di matanya Tari bicara.
Ibu guru yang mendengar pun segera menenangkan Tari dan Yaya supaya menyudahi tangisan mereka. Ibu guru tidak menjawab keluhan dari Tari maupun Yaya yang masih saja mengoceh bahwa ini semua adalah salah Mia. Mia yang mendengar pun tak kuasa menahan air matanya. Ia merasa dikecewakan kedua temannya, eh mungkin sekarang ia tak merasa mereka ini adalah temannya.
Hingga sampailah mereka di kamar Mia, Tari dan Yaya. Ibu guru yang melihat kamar mereka begitu rapih merasa tersanjung dengan sikap Mia yang begitu rendah hati dan penuh ketabahan menghadapi kedua temannya. Tari dan Yaya pun begitu terkejutnya ketika sampai ke dalam kamar, ternyata Mia sudah merapihkan tas mereka. Karena merasa malu akan sikapnya pada Mia, Yaya pun segera memeluk Mia dan meminta maaf atas perkataan dan perbuatannya yang begitu menyakiti Mia.
Tari merasa telah dikhianati oleh Yaya, hatinya masih penuh kesombongan kepada Mia. Namun, karena Yaya memeluk Mia, akhirnya ia pun memeluk Mia juga walaupun hatinnya enggan sekali memeluknya. Ibu guru yang melihat mereka berdamai pun tersenyum. Selesai mereka berpelukan, ibu guru meminta mereka bergegas untuk segera berkumpul di bawah dengan membawa tas mereka masing-masig.
Saat di dalam kamar, terlihat Tari yang masih menggerutu. Ia bukannya berterima kasih pada Mia malahan menyombongkan dirinya.
"Sebenarnya sih tas aku tuh udah rapih, jadi ya? kayaknya gak perlu aku bilang terima kasih sama kamu" dengan muka melasnya ia berbicara kepada Mia.
Mia hanya mendengarkan tak membalas sepatah kata pun, namun Yaya yang malah membalas perkataan Tari.
"Tarii bukannya bilang makasih malah sombong gitu sama Mia, ohh yaa aku mau bilang terima kasih yah buat Mia, kamu tuh baikk bangett. Maaf yaah kalo barang punyaku banyak yang berserakan."
Mia hanya mengangguk dan mendekat ke arah Yaya yang sedang duduk dan menunduk seraya mengusap lembut punggung telapak tangan Yaya.
Tari yang merasa bahwa Yaya sudah direbut Mia segera pergi dari kamar dengan pintu yang ditutup sangat keras. Yaya pun berbicara kepada Mia di sana seraya menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Mia, sebenarnya aku bersikap angkuh sama kamu itu karena di suruh Tari. Dia pengen kamu ngerasa sedih dan terbully agar kamu bisa tunduk sama dia dan bisa dia manfaatin seenaknya. Harusnya aku gak ikutin kata-kata dia.. maaf yaah mi"
Mia yang mendengarkan merasa kecewa pada Tari, karena ia sebenarnya sudah mengganggap Tari dan Yaya seperti teman dekat ataupun sahabat. Namun ternyata Tari menganggap Mia seperti musuhnya.